LABUAN BAJO – Upaya merefleksikan usia kemerdekaan RI yang ke-73 tahun, Pemerintah Daerah Manggarai Barat melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Manggarai Barat menyelenggarakan kegiatan Sarasehan Kebangsaan di aula Kantor Bupati Manggarai Barat, Kamis (09/08/2018).

Sarasehan Kebangsaan tersebut mengambil tema “Membangun Karakter, Membangun Bangsa” dan dihadiri sejumlah pejabat Lingkup Pemda Mabar beserta Aparatur Sipil Negara (ASN).

Sarasehan Kebangsaan itu menampilkan Pater Dr. Hubert Muda,SVD, Ketua Lembaga Studi Agama dan Budaya Van Bekkum-Verheyen, sebagai nara sumber dan Teobaldis Deki,S.Fil.,M.Th. sebagai moderator. Kegiatan sarasehan itu diselenggarakan sebagai upaya untuk membangun kembali nilai-nilai kebangsaan, mengamalkan empat pilar kebangsaan, dan merefleksikan dan mengaktualisasikan peran ASN dalam pembangunan baik di tingkat lokal maupun nasional.

Bupati Manggarai Barat, Drs. Agustinus Ch. Dula, saat membuka kegiatan tersebut mengatakan, ASN dituntut untuk dapat memberi kontribusi kepada negara sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing.

“Untuk mengisi kemerdekaan, ASN dituntut untuk mempertahankan, menumbuhkan, melestarikan, dan mengimplementasikan pesan-pesan dari pendiri bangsa dan nilai-nilai yang terkandung dalam empat pilar kebangsaan yaitu pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI dalam tugas pelayanannya sebagai abdi negara dan masyarakat”, tegas Bupati Gusti Dula.

Momentum peringatan HUT kemerdekaan RI adalah kesempatan untuk merefleksikan nilai-nilai luhur yang menjadi kearifan bangsa dan lebih dari itu melakukan apa yang semestinya dibuat sebagai sumbangsih terindah dalam mengisi kemerdekaan.

Pemahaman dan kesadaran akan nilai-nilai luhur dari budaya bangsa Indonesia sangat penting untuk ditumbuhkembangkan secara terus menerus dalam setiap pribadi terlebih ASN sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. Dari pemahaman dan kesadaran itulah karakter setiap pribadi dan bangsa terbentuk.

Oleh karena itu, Bupati Gusti Dula mengatakan, karakter mesti dipertahankan dan ditumbuhkembangkan serta terpatri dalam diri sehingga dapat menjadi pribadi yang integral.

Lebih lanjut Bupati Gusti Dula mengingatkan semua pihak terkait dengan perilaku yang menunjukkan karakter yang salah seperti pemilik sapi yang membiarkan ternaknya bebas berkeliaran, kebiasaan membuang sampah tidak pada tempatnya, merusakan pipa air dengan melubangkannya. Hal-hal seperti itulah yang dapat merusak citra diri dan karakter diri.

Dalam pada itu, Pater Hubert Muda yang juga budayawan, saat memberikan materi mengatakan, secara de facto Indonesia telah merdeka dari penjajahan bangsa asing namun kita belum merdeka dari perbudakan mental, dan justru perbudakan mental inilah yang paling kejam.

Dengan demikian, lanjut Pater Hubert Muda, revolusi mental menjadi urt perubahan adalah memulai  dari diri sendiri, lingkungan terkecil yakni keluarga. Dari keluarga ditanamkan nilai-nilai hidup baik dari diri setiap pribadi yang kemudian tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter.

Dalam konteks lokal, ujar Pater Hubert Muda, sesungguhnya nilai-nilai luhur kearifan lokal budaya Manggarai sudah diwariskan turun temurun misalnya dalam membangun relasi demokrasi berdasarkan 4R yakni reis atau menyapa, ruis artinya datang, raes artinya duduk bersama, ada kebersamaan, persekutuan, raos yang berarti keramaian, berpesta, dimensi elaborasi atau keramaian publik karena merayakan martabat manusia. Dan banyak lagi kearifan lokal yang terkandung dalam budaya Manggarai yang patut dipelajari secara mendalam.

ASN sebagai kelompok kunci dalam revolusi mental, ungkap Pater HuberMuda, harus dapat menebarkan pesona yang berkarakter dan mampu menampilkan model kepemimpinan dengan bertolak dari 4 T yaitu toing (memberitahu dalam pengertian mengajarkan hal-hal baik), toming, titong (menjaga, melindungi), tatong. (Arnoldus Nggorong)


Cetak   E-mail