SOSIALISASI TBC DI KELURAHAN WAE KELAMBU

Labuan Bajo –Keringat masih membasahi bapa-bapa warga Wae Nahi RT 19, RW 03, Dusun Sernaru, Kelurahan Wae Kelambu saat mengikuti penyuluhan kesehatan yang dibawakan dr. Debrayat  Osiana, Penanggung Jawab Upaya Kesehatan Perseorangan pada Puskesmas Labuan Bajo, Sabtu, (24/3/2018)

Hari itu, peringatan Hari TBC sedunia. Dua kegiatan penting dilaksanakan. Diawali dengan kegiatan kebersihan lingkungan yang dipimpin langsung oleh Lurah Wae Kelambu, Markus Randu,A.Md.

Embun masih menempel di rerumputan. Matahari belum beranjak dari persembunyiannya di balik bukit Bowocie. Warga Wae Nahi bergotong royong membersihkan lingkungannya. Hawa pagi yang sejuk terasa menyegarkan. Sejumlah warga begitu asyik mengayunkan parangnyadan yang lain menggunakan sabit.

Dalam beberapa tebasan semak-semak di ruas jalan lingkar luar Wae Nahi rebah. Sementara warga yang lain dengan kayu bercabang mengumpulkan semak-semak yang sudah terpotong. Warga terbagi dalam beberapa kelompok.

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 09.00. Sinar mentari mulai terasa menusuk kulit. Peluh mengalir di sekujur tubuh. Serentak terdengar suara ajakan Pak Lurah menghentikan kegiatan bersih-bersih lingkungan untuk selanjutnya menuju tenda di rumah Chritoforus Djaimbutu (46) yang terletak di Gang Bhineka.

Di sana warga berkumpul untuk mendengar penyuluhan kesehatan. Minuman kopi panas dan teh hangat beserta kue buatan ibu-ibu dasa wisma telah tersedia. Warga beristirahat sejenak sambil menyeruput minuman yang disajikan sambil terlarut dalam canda dan tawa lepas tanpa keluh kesah. Mereka melebur dalam kebersamaan dan kekompakan.

Tepat pukul 09.30 kegiatan penyuluhan kesehatan dimulai. “Kami Peduli TBC, Indonesia Sehat, YESSS…” Demikian teriakan penuh semangat warga secara bersamaan mengawali kegiatan tersebut.

Dokter Osin, demikian biasa disapa, mulai menjelaskan tentang TBCatau Tuberculosis. TBC adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosisyang banyak diderita oleh masyarakat Indonesia.

Ciri penderita TBC, jelas dr. Osin, yaitu batuk lebih dari dua minggu, dada terasa nyeri, dan batuk darah atau sputum (lendir dari dalam paru-paru).Selain itu, gejala lainnya adalah demam, kesulitan bernapas, kehilangan berat badan, menurunnya nafsu makan, badan terasa lemah, dan berkeringat di malam hari.

Jika diterapi dengan benar, ujar dr. Osin,penyakit TBC yang disebabkan oleh kompleks Mycobacterium tuberculosis, dapat disembuhkan. Caranya yakni rutin berobat ke tempat layanan kesehatan terdekat.

Namun yang lebih penting adalah mempunyai kebiasaan hidup sehat antara lain selalu menjaga kebersihan lingkungan, memeriksakan kesehatan secara teratur, membiasakan untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.Tak lupa pada kesempatan yang sama, dr. Osin memperagakan cara mencuci tangan yang baik dan benar. Semua kebiasaan itu harus dimulai dari keluarga.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Osin juga menjelaskan tentang PMS (penyakit menular seksual). Labuan Bajo telah menjadi kota yang dikunjungi oleh banyak orang dari pelbagai belahan bumi. Dokter Osin mengingatkan warga untuk waspada terutama penuh perhatian terhadap anak-anak.

Saat ini, kata dr. Osin, sudah ada pelajar SMA yang terkena penyakit menular seksual berupa kencing nanah. Karena itu, setiap keluarga mesti memperhatikan anak-anaknya dan sering berkomunikasi dengan mereka. Model komunikasi yang baik dalam keluarga akan membantu orangtua untuk mengetahui perkembangan anaknya. Dengan demikian dapat meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan.

Lebih dari itu, dr. Osin menekankan, penyuluhan merupakan proses membangun kesadaran bersama akan pentingnya kesehatan bagi hidup setiap orang. Kesadaran itu mesti lahir dari dalam diri sendiri. Karena itu pendidikan yang benar dan pemahaman yang tepat tentang hidup sehat harus menjadi hal yang utama bagi setiap orang. “Lebih baik mencegah daripada mengobati,” ujarnya.

Dalam pada itu, Fina Nuryati,A.Md.Kep, Pengelola Program TBC pada Puskesmas Labuan Bajo, mengatakan penyebaran penyakit TBC terutama melalui dahak. Dahak yang dibuang penderita TBC menjadi sarana ampuh bagi penularan penyakit ini. “Penularan penyakit TBC terjadi karena adanya kontak dengan dahak atau menghirup titik-titik air dari bersin atau batuk dari orang yang terinfeksi kuman tuberculosis,” ujarnya.

Karena itu, ibu Fin meminta agar membuang dahak pada tempat yang disediakan secara khusus. Dalam kesempatan tersebut, ibu Fin juga menjelaskan tentang penularan penyakit malaria dan demam berdarah. Hal yang perlu diperhatikan menurutnya adalah membersihkan tempat-tempat yang dapat menampung air karena di situlah nyamuk malaria dan demam berdarah dapat berkembangbiak.

Lurah Wae Kelambu, Markus Randu,A.Md, dalam sambutan penutupnya, mengapresiasi antusiasme warga dalam kegiatan kebersihan lingkungan dan penyuluhan kesehatan dalam rangka memperingati hari TBC sedunia.

Markus Randu menyampaikan terima kasih kepada dr. Osin, Ibu Fin, dan Ibu Linda Labur,A.Md. Keb., Kepala Pustu Wae Kelambu yang telah berkorban menyiapkan waktu, tenaga dan pikiran untuk mencerahkan warga Wae Nahi tentang kesehatan terutama terkait penyakit TBC, PMS, pendidikan dalam keluarga.

Dalam kesempatan tersebut, Markus Randu menginformasikan bahwa sekitar bulan juni-juli jalan lingkar luar Wae Nahi akan dihotmix dengan dana 22 M lebih, di dalamnya juga ada tiga gang yang diperhatikan untuk ditingkatkan.

Putera  asli Sernaru ini berkomitmen untuk memajukan kelurahan Wae Kelambu selama ia mengemban jabatan yang dipercayakan kepadanya. Ia akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait program-program yang langsung bersentuhan dengan kehidupanwarganya dan berusaha menjawabi kebutuhan mereka.

Waktu menunjukkan pukul 12.10. Panas matahari membuat gerah. Acara kegiatan kebersihan lingkungan dan penyuluhan kesehatan ditutup dengan foto bersama. (Arnoldus Nggorong)


Cetak   E-mail