LABUAN BAJO – Mendung menyelimuti kota Labuan Bajo Senin pagi (20/8/2018) saat karnaval sedang berlangsung persis di halaman Kantor Bupati Manggarai Barat. Sang surya nampak seperti sahabat setia yang tetap bersembunyi di balik awan dan enggan memancarkan sinar terik yang biasanya membakar kulit.

Hawa pagi yang segar semakin terasa menyegarkan pandangan mata dan membuat penonton terkesima karena sebagian besar peserta karnaval mengenakan busana adat dengan pernak-pernik yang dihias indah dan menarik.

Karnaval yang merupakan rangkaian dari semarak HUT RI ke-73 ini diikuti peserta dari tingkat PAUD/TK/RA hingga SMA/SMK serta Organisasi Perangkat Darah (OPD), BUMD, Organisasi Olahraga, dan Paguyuban se-kota Labuan Bajo.

Peserta karnaval tampil dalam bermacam ragam mode busana adat nusantara baik yang otentik maupun hasil modifikasi yang ada di kota Labuan Bajo antara lain Manggarai, Bajawa, Bugis, Jawa, Bima. Namun busana adat Manggarai nampak lebih dominan.

Ada pula peserta yang tampil dengan pakaian seragam dari pelbagai profesi seperti perawat, guru, dokter, tentara, polisi, Bupati, Kapolres dalam aneka gaya yang menarik dan lucu.

Selain itu, di antara peserta ada juga yang membawa spanduk bertuliskan: anti hoax, bebas narkoba, ayo sukseskan Asian Games 2018, perangi sampah.

Berbagai atraksi dipertunjukkan di antaranya marching band, tari caci, tari rangkuk alu, puisi, lagu, tari kreasi modern, dan atraksi-atraksi lainnya yang mengundang decak kagum dan tawa para penonton.

Titik start karnaval dibagi dalam dua titik. Kelompok TK/PAUD dan SD/MI dimulai dari perempatan Langka kabe, sedangkan kelompok lainnya mengambil titik start di depan SMPK St. Arnoldus Labuan Bajo.

Ketua Panitia, Sekretaris Badan Perencanaan, Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Manggarai Barat, Drs Salvador Pinto saat dihubungi di sela-sela kegiatan tersebut mengatakan, kegiatan karnaval tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dan sengaja dilaksanakan pada pagi hari dengan maksud agar peserta karnaval diberi waktu yang cukup lama untuk secara bebas berekspresi.

“Tahun lalu kagitan karnaval dan pawai pembangunan digabungkan, sedangkan tahun ini karnaval dibuat pagi hari sedangkan pawainya dilaksanakan pada sore hari,” ujar Pinto demikian biasa disapa.

Kemeriahan tahun ini lebih terasa, ungkap Pinto, karena kebanyakan peserta mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Nusantara yang ada di kota Labuan Bajo.

“Hal tersebut menggambarkan, Labuan Bajo adalah kota multikulutral di mana banyak sekali etnis yang tinggal di kota ini. Juga memperlihatkan kehidupan masyarakat kota yang hidup rukun dan berdampingan secara damai satu dengan yang lainnya,” jelas Pinto. (Arnoldus Nggorong)


Cetak   E-mail