Hano Limbung, salah satu lokasi obyek wisata unggulan di miliki oleh Kabupaten Manggarai Barat. Hano Limbung terletak di kampung Ngaet, desa Golo Lujang, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, jaraknya sekitar 40 kilometer arah timur dari Labuan Bajo, Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat.

Lokasi ini cukup banyak dan ramai di kunjungi oleh wisatawan, baik lokal maupun manca negara dan bahkan belum lama ini dari Papua, sengaja datang hendak menyaksikan dan melihat secara langsung keindahan alam kawasan Hutan Hano Limbung untuk melakukan studi banding di wilayah tersebut. Diperkirakan ada sebelas rumah atau stand usaha yang ada di lokasi itu dan kebanyakan pemilik stannya warga lokal kampung Ngaet dengan berbagai usaha warung makanan ringan. Warga setempat membangun kuliner di tempat itu di dampingi oleh Dinas Kehutanan Propinsi NTT UPT Manggarai Barat.

Sejumlah pemilik warung kuliner di kawasan Ekowisata Hano Limbung Kawasan Hutan Nggorang Bowosie yang ada di Naget, desa Golo Lujang, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat mengaku memililiki dampak ekonomi dengan dibukanya beberapa stan usaha di Hano Limbung, mendatangkan keuntungan bagi warga setempat yang mengelola usaha di tempat itu.

Warga yang enggan menyebutkan namanya, ketika berbincang dengan Media ini menuturkan, kalau omset pendapatan mereka mencapai Rp.400 hingga Rp.500 ribu dalam sehari, ini sangat mengembirakan tutur seorang ibu yang usia separuh baya.

Beberapa makanan yang di tawarkan seperti serabe, kopi, teh, mie rebus dan bahan makanan kios lainya.

Sesuai dengan sejarah yang di wariskan oleh orang tua di wilayah itu sebagaimana di peroleh media ini dari papan informasi yang di pajang lokasi itu menceritakan, pada zaman dahulu di Hano Limbung ada sebuah kampung namanya Kampung Lada yang di huni oleh nenek moyang di kampung itu. Nama nenek moyang itu Lujang dan tinggal bersama dengan istrinya. Nenek Lujang memiliki tiga orang anak bernama Ndabar, Ngaet dan satu orang anak perempuan namun tidak diketahui nama anak itu.

Dalam keturunannya  Ndabar memiliki (8) delapan orang anak yang bertumbuh dan berkembang di kampung itu, dan tidak dapat berkomunikasi dengan kampung lain mengingat jaraknya sangat jauh, sehingga  anak yang perempuan maupun yang laki-laki tumbuh dan tidak bergaul dengan orang luar.

Tak disangka, akhibat jarak yang begitu jauh dan kurangnya pergaulan dengan orang lain maka terjadilah hubungan intim antara salah seorang anak lelaki dan adik perempuan keturunan Ndabar. Kecelakaan ini tentu tidak diinginkan oleh penguasa alam. Dalam bahasa Manggarai jurak, dimana antara suadara dan saudari kandung melakukan hubungan intim ini haram bagi orang Manggarai. Karena ada keturunan Ndabar ini menjalin hubungan yang tidak di inginkan, maka satu kampung dan satu keturunan terendam air, dalam bahasa setempat sa empo sa limbung tenggelam sehingga kini tempat tersebut bernama Hano Limbung.

Pantauan Media ini, di lokasi itu telah di bangun juga pos dari Dinas Kehutanan UPT Manggarai Barat, dan lokasi itu terlihat sangat bersih dan sangat bagus dan mampu memanjakan pengunjung yang datang dari jauh. (Kominfo Mabar)