Labuan Bajo - Alam Flores memang menakjubkan. Sebut saja Gua Batu Cermin, di mana ada banyak objek menarik yang bisa dilihat langsung oleh turis di sana.
Gua Batu Cermin ada di Wae Kesambi, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Ini termasuk objek wisata yang banyak dikunjungi turis di sekitar Labuan Bajo. detikTravel sempat mengunjunginya beberapa waktu lalu.

Dari gerbang depan, traveler akan diarahkan ke loket untuk membayar tiket masuk terlebih dahulu. Kemudian lanjut berjalan kaki melewati jalan setapak dengan pohon bambu di kanan kirinya, hingga tiba di mulut gua.
Sampai di mulut gua, ada sejumlah anak tangga yang harus dinaiki traveler untuk masuk ke dalam. Nah, sampai di sini turis akan diminta memakai helm dan membawa senter yang telah disediakan. Jelajah gua pun dimulai!

   
 
(Kurnia/detikTravel)

Pintu masuknya setinggi sekitar setengah meter saja jadi harus menunduk dan menyelakan senter karena tempatnya gelap. Setelah masuk, keajaiban gua mulai terlihat. Dengan sedikit penerangan dari senter, turis akan menyaksikan stalaktit dan stalagmit yang berkilau.
Kabarnya, kilauan tersebut berasal dari kandungan garam di batu tersebut. Kalau dirasakan, bisa jadi rasa asin akan terasa di permukaan batuan tersebut. Ketika ada air mengalir di kala hujan misalnya, batuan tersebut bisa jadi makin menebal dan berkilau.
Stalaktit dan stalagmit yang mengandung garam ini cukup ajaib karena posisi gua ada di daratan, di atas permukaan laut. Anehnya lagi, di mulut gua juga ada fosil penyu dan batu karang berusia ribuan tahun.

Fosil penyu (Kurnia/detikTravel)

Beberapa pendapat pun menyebutkan kalau Gua Batu Cermin dulunya ada di dasar laut. Salah satu orang yang mengutarakan pendapat ini adalah Theodore Verhoven, seorang arkeolog Belanda yang menemukan gua ini.
Satu hal lagi yang tak kalah menarik untuk disaksikan di dalam gua adalah 'cermin' yang jadi asal namanya. Dari fosil penyu, berjalanlah beberapa meter dan traveler akan melihat celah selebar 3/4 meter.

(Shafa/detikTravel)

Di bagian atas gua di sekitar celah itu, ada lubang berdiameter sekitar 2 meter yang menjadi lubang masuk sinar matahari. Nah, celah sempit itu menjadi semacam cermin yang memantulkan cahaya.
Namun fenomena cermin itu tak bisa dilihat setiap saat. Hanya di saat tertentu misalnya di musim hujan di mana banyak air memenuhi celah tersebut. (krn/krn)

sumber: www.travel.detik.com