Labuan Bajo – Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Barat melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan menyelenggarakan kegiatan Kontes Sapi dan UPSUS SIWAB (Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting) selama tiga hari di Lapangan Sepak Bola Kakabotek Wae Nakeng, Kecamatan Lembor. Kegiatan tersebut mulai dilaksanakan tanggal 26 sampai dengan 28 April 2018.

Untuk kontes sapi, kategori yang dilombakan adalah 1) sapi bali jantan bibit; 2) sapi bali betina indukan; dan 3) sapi bali betina bibit. Adapun aspek yang dinilai yakni penampilan, bentuk tubuhnya, dan bobotnya.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Frida A. Buthe, saat ditemui di ruang kerjanya Kamis, (26/4/2018) mengatakan, kegiatan tersebut merupakan upaya memotivasi warga untuk lebih giat menekuni usaha ternak besar seperti sapi dan kerbau atau pun ternak kecil seperti babi, kambing dan unggas.

“Jadi point yang ditekankan di sini adalah bagaimana membangun kesadaran warga untuk lebih serius dan tidak setengah-setengah ataupun melihat usaha ternak sapi sebagai usaha sampingan, atau juga sekedar mengisi waktu luang,” ujarnya.

Selain itu, Ibu Frida menjelaskan, kegiatan tersebut juga untuk mendapatkan bibit unggul baik pejantan maupun betina yang berdampak kepada produksi yang tinggi. Lebih dari itu juga, kualitas bibit yang unggul sangat menentukan daya saing produk peternakan.

Dilihat dari sisi lahan, Manggarai Barat memiliki potensi yang sangat memungkinkan untuk mengembangkan ternak besar seperti sapi ataupun kerbau. Padang yang luas di beberapa wilayah sangatlah tepat untuk pengembangan ternak besar tersebut seperti di Kecamatan Lembor Selatan, Komodo, Lembor, Macang Pacar, Welak dan Boleng.

“Peluangnya sangat besar untuk kembangkan ternak sapi dan kerbau karena punya lahan penggembalaan yang luas, juga tenaga kerja yang besar yang mana sekitar 85 % penduduk manggarai barat adalah petani, serta permintaan pasar ternak sapi dan kerbau cukup tinggi.” tutur Ibu Frida.

Saat ini populasi sapi untuk Kabupaten Manggarai Barat sebanyak 14.564 ekor, sedangkan populasi kerbau 18.289 ekor.

Khusus untuk ternak sapi, lanjut Ibu Frida, dalam rangka mempertahankan populasi dan meningkatkan produksi Pemerintah Daerah berupaya melakukan inseminasi buatan. Maksudnya perkembangbiakannya diatur melalui kawin suntik untuk memperpendek jarak kelahiran.

Selain peluang seperti luas lahan penggembalaan dan banyaknya tenaga kerja, terdapat juga hambatan yang ditemui di lapangan di antaranya sistem pemeliharaan yang masih bersifat tradisional seperti sapi ataupun kerbau dilepas bebas mencari makan sendiri, kekurangan pengetahuan tentang cara memelihara ternak yang baik dan benar, tidak tersedianya penanaman pakan hewan yang berkualitas, kekurangan air, dan belum adanya tata ruang peternakan.

Karena itu, Ibu Frida mengharapkan agar warga yang hendak menekuni usaha ternak sapi mesti betul-betul memahami dengan baik cara pemeliharaan ternak seperti pemberian makanan yang bernilai gizi, penanggulangan penyakit hewan (vaksin dan pengobatan), penanganan reproduksi (mengatur perkawinan baik secara alamiah maupun dengan inseminasi buatan) dan juga pengaturan waktu pemasaran yang tepat. Sebab jika ternak dibiarkan bebas berkeliaran akan mengalami kesulitan dalam penanganan untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.

Pada kesempatan tersebut dilakukan pula beberapa kegiatan seperti pameran sapi hasil inseminasi buatan, vaksin hog cholera, pengobatan ternak yang sakit, peningkatan kondisi (suntik vitamin), pemberian konsentrat calon induk sapi yang beratnya kurang dari 250 kg, dan pemberian obat cacing.

Selain itu, pembangunan peternakan secara menyeluruh mengandaikan adanya penanganan pembibitan yang benar, baik dan tepat. Maka dari itu,  Pemerintah Daerah Manggarai Barat melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan berupaya meningkatkan kelembagaan pembibitan melalui pembangunan UPTD pembibitan ternak berlokasi di Kecamatan Lembor Selatan, Lembor dan Sano Nggoang.

Saat ini telah dilakukan kerja sama dengan perguruan tinggi untuk membuat master plan pembibitan dan pengolahan pakan dan limbah ternak.(Arnoldus Nggorong)