MENGENAL OBYEK WISATA WATU TIMBANG RAUNG

Macang Pacar,-

Potensi Pariwisata yang menyebar di seluruh wilayah Kecamatan Macang Pacar Kabupaten Manggarai Barat Cukup banyak dan terbilang sangat potensial, manakala di kembangkan dengan baik.

Sebut saja beberapa icon yang menarik untuk di kunjungi, diantaranya Obyek Wisata Watu Timbang Raung. Lokasi obyek wisata ini terletak di pinggir jalan Trans Reo - Labuan Bajo, tepatnya di desa Rego Kecamatan Macang Pacar, dengan menempuh jarak sekitar 80 km dari arah timur Kota Labuan Bajo.  Kondisi jalan menuju ke tempat tersebut sudah di lapen, namun kini sudah banyak banyak terjadi kerusakan di beberapa titk tertentu, sehingga Ketika menuju ke lokasi itu, disarankan menggunakan kendaraan roda empat (Double Gardan), disamping itu juga dapat memanfaatkan angkutan pedesaan yang selalu melewati lokasi tersebut setiap harinya.

 

(Obyek Wisata Watu Timbang Raung - Kec. Macang Pacar, Sumber Foto : travel.kompas.com)

Apa keistimewaan obyek wisata Watu Timbang Raung? Timbang Raung merupakan bahasa asli Manggarai. (Watu artinya Batu, Raung artinya Utang dan Timbang artinya Menimbang, menghitung) ujar beberapa warga saat berbincang dengan media ini dalam suatu kesempatan. Sehingga Watu Timbang Raung dimaknai sebagai tempat untuk mengadili orang yang memiliki utang. Watu Timbang Raung adalah sebuah batu dengan ketinggian ratusan meter di atas permukaan tanah yang kondisi alam sekitarnya masih alami dan akan memanjakan mata para pengunjungnya dengan suguhan alam yang menakjubkan dari dasar batu hingga diatas puncak batu tersebut.

 

Menurut Cerita sejumlah orang tua di wilayah rego dan sekitar, pada zaman dahulu terdapat satu keluarga di rego, namun tidak di jelaskan siapa nama anggota keluarga itu, mereka mengalami kesulitan ekonomi. Suatu ketika mereka meminjam uang kepada rentenir (tengkulak) yang ada di kampung Bari Kecamatan Macang Pacar.

 Awalnya satu keluarga ini ketika meminta untuk meminjam uang kepada rentenir (tengkulak), namun sang juragan ini keberatan untuk memberikan sejumlah uang, mengingat kondisi keluarga peminjam yang tergolong miskin sehingga keluarga tersebut tidak mampu mengembalikannya, karena didesak secara terus menerus dan dengan penuh keyakinan keluarga ini selalu memohon kepada sang renteiner, akhirnya sang renteinerpun luluh hatinya hingga ia memberikan sejumlah uang kepada keluarga tersebut.

 Saat pemberian uang sang renteiner menyampaikan sejumlah catatan yang harus di penuhi, diantaranya harus mengembalikan uang tepat waktu, dan sang keluarga inipun menyanggupi permintaan sang renteiner, mendengar kesanggupan keluarga ini sang renteiner menyerahkan sejumlah uang.

Setelah jatuh tempo, sebulan kemudian, sang renteiner menunggu pengembalian uang serta bunganya, namun keluarga ini tak kunjung datang. Dua bulan kemudian hal yang sama, sang keluarga ini tak kunjung datang. Keluarga ini tidak datang untuk mengembalikan uang ini, lantaran mereka tidak memiliki uang, ditambah wilayah hamente rego (wilayah adat) saat itu terjadi kelaparan hebat dan keluarga inipun mengalami hal yang sama.

Karena tidak datang akhirnya sang renteiner mendatangi keluarga ini, datang dari Bari menuju rego yang jaraknya sekitar 30 kilometer. Sesampainya di kediaman keluarga yang meminjam uang, sang renteiner ini marah dan kesal lantaran sekian bulan uangnya tidak di kembalikan.

Akhirnya sang renteiner ini memberi isyarat kepada keluarga ini,  agar anak gadis semata wayang dari keluarga itu, diminta untuk memanjat batu timbang raung dan sesampai di puncak batu yang tingginya hampir 100 meter, sang gadis harus membawa tempurung kelapa yang berisi kelapa yang sudah di parut untuk keramas rambutnya (rono wuk dalam bahasa Manggarai, red)  di puncak bukit. Posisi batu timbang raung pada bagian puncak terdapat lonjong kedepan sepanjang tujuh meter dan memang bagian atas agak rata.

Menurut renteiner ini, ketika anak gadisnya menyanggupi permintaan tersebut, maka utangnya otomatis lunas. Dalam posisi tidak menyenangkan, sang keluarga menyanggupi permintaan sang renteiner. Keluarga ini, hanya memiliki seorang anak, yakni gadis yang sangat cantik sekali.

Setelah ada kesepakatan kedua belah pihak, akhirnya anak gadis ini perlahan namun pasti memanjat watu timbang raung. Sesampai di puncak anak gadis ini, dengan keberanianya dan memikirkan utang orang tuanya, dan dirinya melakoni sebagaimana yang telah di sepakati. Puji Tuhan sang gadis semata wayang ini dengan sempurna telah melakukan dan turun dengan selamat dan begitu dia turun sang renteiner mengatakan hutangnya lunas.

Warga setempatpun menyambut sang gadis dengan sorak sorai, dan sejak saat itu batu besar itu di namai watu Timbang Raung tempat lunasnya utang.

Sebelum tahun delapan puluhan batu bagian atas memang sangat jelas, namun Karena ada gempa bumi pada tahun delapan puluhan bagian atas batu itu menjadi patah.`(frumentius amas)


Cetak   E-mail