Labuan Bajo – Komitmen Pemerintah Daerah Manggarai Barat melalui Dinas Tanaman Pangan, Holtikutura dan Perkebunan menjadikan jagung sebagai salah satu varietas unggulan mulai terealisasi. Kegiatan Panen Simbolis Jagung Hibrida di Kelompok Tani Worang Tonas, Kampung Watu Weri, Desa Repi, Kecamatan Lembor Selatan, Jumat (6/4/2018) menjadi saksi nyata keseriusan Pemkab Mabar dalam mewujudkan impiannya.

Lahan seluas 863 ha untuk Kecamatan Lembor Selatan yang sebelumnya cuma lahan tidur mampu menghasilkan 9 ton per hektar. Jika dirupiahkan dengan nilai jual Rp. 3.000,-, maka akan diperoleh Rp. 23.301.000.000,-  (23 Miliar) atau 27 juta per hektar dikurangi biaya produksi Rp. 7.000.000,- masih sisa Rp. 20.000.000,- dibagi 4 bulan produksi, maka penghasilan petani jagung di Lembor Selatan rata-rata per bulan mencapai Rp. 5.000.000,-, demikian kata Anggalinus Gapul,SP,MMA, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Kabupaten Manggarai Barat.

Hasil panen yang menggembirakan tersebut merupakan buah kerja sama petani bersama PPL dengan dukungan Pemerintah pada musim tanam tahun 2017.

Selain itu, ujar Angga Gapul, varietas lain yang juga dikembangkan di Lembor Selatan yakni kedelai, bawang merah, jambu mete dan padi inbrida. Menurut rencana, pada bulan Mei 2018 kegiatan ekstensifikasi padi dengan tekhnologi tanam jajar legowo akan dikembangkan pada lahan seluas 15 ha di Kelompok Tani Purang Jompa III Desa Repi.

Bantuan benih padi yang akan diterima kelompok tani pada bulan April 2018 sebanyak 375 kg merupakan dukungan Pemkab Mabar dari APBD Tahun Anggaran 2018. Dalam Tahun 2018 Pemerintah Propinsi NTT juga mengalokasikan APBD Tahun Anggaran 2018 untuk pengembangan padi inbrida sawah pada lahan seluas 100 ha dengan jenis bantuan benih dan pupuk.

Dukungan Pemerintah Pusat pada tahun yang sama ditunjukkan melalui alokasi APBN Dekon Propinsi NTT untuk kegiatan padi inbrida sawah pada lahan seluas 90 ha dengan jenis bantuan benih unggul 25 kg per hektar.

Dalam pada itu, Bupati Manggarai Barat, Drs. Agustinus Ch. Dula, dalam sambutannya, menyampaikan terima kasih kepada para petani dan PPL serta elemen masyarakat lainnya yang telah bekerja sama hingga mencapai hasil yang memuaskan.

“Hasil yang dicapai hari ini merupakan usaha kreatif dan kerja keras yang telah ditunjukkan para petani bersama PPL. Lahan tidur diubah menjadi lahan produktif,” ujar Bupati Agustinus Ch. Dula.

Lebih jauh Bupati Gusti Dula menantang para petani untuk dapat memanfaatkan lahan yang ada dengan menanam berbagai jenis varietas lainnya yang dapat mendatangkan nilai ekonomi yang berdampak pada kesejahteraan petani sendiri.

“Bila perlu dikembangkan juga ternak sapi, kuda dan sejenisnya yang dapat memberikan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat,” katanya.

Diharapkan dengan panen perdana jagung secara simbolis semakin memotivasi masyarakat untuk lebih giat dan tekun menjadi petani jagung. “Ini menjadi momentum untuk mewujudkan tekad Pemerintah Daerah dalam mejadikan Lembor Selatan sebagai ‘lautan jagung’,” demikian tekad Bupati Gusti Dula disambut aplaus penuh semangat warga setempat.

Lebih dari itu, Bupati Gusti Dula mengajak petani dan para stakeholders untuk mendukung gerakan sejuta ton jagung.

Sementara itu, Bonefasius Jumur (54), Ketua Kelompok Tani Worang Tonas, saat dihubungi di sela-sela kegiatan tersebut mengaku bangga dengan panen perdana yang hasilnya sangat memuaskan.

Karena itu, Bone Jumur mengharapkan Pemkab Mabar dapat membantu membuatkan embung untuk mengairi tanaman jagung manakala terjadi kurangnya curah hujan. Dengan demikian worang tonas dalam bahasa masyarakat setempat secara harafiah berarti menyiram tunas. Sehingga permintaan Bone Jumur untuk membuat embung di lokasi lingko Tiwung Tana sungguh tepat. Air dari embung akan dimanfaatkan untuk mengairi dan menjaga tanaman tetap segar dan bertumbuh dengan baik.

Di samping itu, Bone Jumur juga meminta Pemda Mabar untuk membuatkan jalan tani demi mendukung dan memperlancar mobilisasi angkutan hasil panen.

Pada kesempatan yang sama, Pius Payong Boro, Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Lembor Selatan, mengatakan, pada musim tanam 2018 luas lahan yang akan ditanami jagung adalah 1600 ha, yang tersebar pada 15 desa  di kecamatan Lembor Selatan. Lahan seluas ini tentu menjadi tantangan bagi PPL dan petani untuk lebih tekun dan termotivasi sehingga hasilnya lebih memuaskan.

Adapun tantangan yang dihadapi, lanjut Pius, yakni ternak yang dibiarkan berkeliaran oleh pemiliknya. Karena itu diharapkan agar pemilik ternak dapat menertibkan hewan piaraannya dengan dikandangkan atau diikat.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Kantor Logistik Labuan Bajo, Riyan Djami menginformasikan harga acuan pembelian dari petani dan harga acuan penjualan di konsumen untuk beras yakni pembelian gabah kering penen Rp. 3.700,-/kg, gabah kering giling Rp. 4.600,-/kg dan beras Rp. 7.300,-/kg ditambah fleksibilitas 10 % dari Pemerintah.

Sedangkan untuk jagung, kadar air (KA) 15 % dibeli dengan harga Rp. 3.150,-/kg, KA 20 % Rp. 3.050,-/kg, KA 25 %vRp. 2.850,-/kg, KA 30 % Rp. 2.750,-/kg, dan KA 35 % Rp. 2.500,-/kg.

Sedangkan bawang merah dibeli dengan harga Rp. 15.000,-/kg untuk konde basah, dan Rp. 18.300,-/kg untuk konde askip, serta Rp. 22.500,-/kg untuk rogol askip.

Sekretaris Kecamatan Lembor Selatan, Dami Raden mengatakan, lahan tidur di wilayah Lembor Selatan masih sangat luas. Dia akan mengupayakan untuk mendorong warganya agar memanfaatkan lahan yang masih kosong.

Turut hadir dalam kegiatan penen simbolis jagung di Kelompok Tani Worang Tonas antara lain Ketua Tim Penggerak PKK Nyonya Wyes Dula, Plt. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Ir.Dominikus Damsut, Kepala Satuan Pol PP, Drs. Yohanes Karjon, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Ir. Fidelis M. Kerong, Kepala Bagian Ekonomi Pembangunan dan SDA Donatus Abu,SE, Camat Lembor Selatan Setahu Paulus, S.Sos, Wakapolsek Kecamatan Lembor, Danramil Kecamatan Lembor, Kepala Desa Repi, Kepala Desa Nangalili, tokoh masyarakat, dan tokoh adat serta warga setempat. (Arnoldus Nggorong)