10 DOKTER INTERNSHIP ANGKATAN I BERTUGAS DI LABUAN BAJO

17-Sep-2018 13:21:48

LABUAN BAJO – Sepuluh dokter internship angkatan I sudah berada di Labuan Bajo. Mereka merupakan peserta yang lolos Program Internship Dokter Indoensia (PIDI) tahun 2018. PIDI adalah program Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kesehatan RI. Program ini dikelola oleh Komite Internship Dokter Indonesia (KIDI).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat, dr. Imaculata Y. Djelalut,M.Kes, mengatakan hal itu, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis pagi (13/9/2018).

“Mereka tiba di Labuan Bajo hari Jumat sore, lalu hari Senin (10/9) mereka sudah melapor diri ke bapak Bupati dan akan menjalankan tugasnya di RSUD Komodo dan Puskesmas Labuan Bajo. Mereka adalah angkatan I yang bertugas di Labuan Bajo dan akan menjalani masa tugasnya selama satu tahun,” kata dr. Ima.

Dokter Ima mengatakan bahwa Bapak Bupati menyampaikan terima kasih kepada para dokter muda tersebut dan berharap agar mereka dapat memberikan yang terbaik yang mereka miliki dalam memberikan pelayanan kepada pasien.

Sedangkan tanggapan dr Ima sendiri terkait kehadiran dokter internship di Labuan Bajo adalah pertama, sangat membantu karena tenaga dokter umum di RSUD dan Puskesmas sangat terbatas sehingga Pemerintah Daerah berupaya dengan berbagai cara untuk mendapatkan tenaga dokter PTT. Kedua, pembagian tugas jaga akan terjadwal dengan baik dan tetap siap siaga karena tenaga yang cukup untuk berdinas baik di waktu pagi maupun sore.

“Tambahan tenaga dokter internship 10 orang merupakan sesuatu yang luar biasa dan sangat menggembirakan bagi kita dan tentunya masyarakat Manggarai Barat. 7 orang akan bertugas di RSUD Komodo dan 3 orang di Puskesmas Labuan Bajo. Mereka akan secara teratur melakukan perpindahan setiap 4 bulan di RSUD Komodo maupun Puskesmas Labuan Bajo,” kata dr. Ima.

Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) merupakan salah satu upaya pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia khususnya di bidang kesehatan.

Internship adalah Proses pemantapan mutu profesi dokter untuk menerapkan kompetensi yang diperoleh selama pendidikan, secara terintegrasi, komprehensif, mandiri serta menggunakan pendekatan kedokteran keluarga dalam rangka pemahiran dan penyelarasan antara hasil pendidikan dengan praktik di lapangan.

Program internship yang diikuti oleh para dokter diwajibkan oleh World Federation of Medical Education, lembaga pendidikan dokter yang berada di bawah World Health Organization (WHO). Karena dalam kurikulum pendidikan dokter berbasis kompetensi, masa pendidikan dokter dipersingkat menjadi 5,5 tahun. Untuk itu, program internship ini dianggap perlu sebagai pemahiran dokter muda.

Sepuluh dokter internship akan menjalankan tugasnya sebagai dokter intership dengan status dokter magang. Mereka berasal dari Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta,  Universitas Pelita Harapan, Universitas Indonesia, dan Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.

“Mereka sudah menyelesaikan pendidikannya di fakultas kedokteran (FK). Ada 6 dari FK Ukrida, 2 dari FK UPH, dan masing-masing 1 dari FK UI dan UII Yogya,” ujar dr. Ima.

Sebelum mereka ditugaskan di Manggarai Barat, jelas dr. Ima, terlebih dahulu KIDI pada tahun 2017 melakukan visitasi ke daerah-daerah untuk melihat secara langsung RSUD dan Puskesmas yang layak untuk ditempatkan tenaga dokter internship tersebut.

“Pada bulan Juli 2018, tim yang sama (KIDI) melakukan visitasi lagi untuk memastikan kesiapan RSUD Komodo dan Puskesmas Labuan Bajo, dan dari hasil visitasi itu kita sudah dianggap layak sebagai wahana dokter internship,” ungkap dr. Ima.

Menurut dr. Ima, di antara syarat yang dipenuhi sehingga RSUD Komodo dan Puskesmas Labuan Bajo dianggap layak adalah tersedianya dokter yang bisa mendampingi dokter-dokter muda yang baru menyelesaikan studinya.

“Di RSUD Komodo ada 2 dokter dan 1 dokter di Puskesmas Labuan Bajo yang akan mendampingi para dokter muda ini,” jelas dr. Ima.

Dokter yang mendamping mereka adalah dokter umum sedangkan dokter spesialis menjadi tempat bagi para dokter muda untuk berkonsultasi dan menambah ilmu.

“Saat ini RSUD sudah memiliki 7 dokter spesialis. Mereka dapat melakukan konsultasi dan belajar lebih banyak lagi untuk menambah pengetahuan dan wawasan mereka dalam menangani kasus-kasus,” ujar dr. Ima.

Selain itu, lanjut dr. Ima, standar kelayakan juga dilihat  dari sisi pelayanan kesehatan, alat kesehatan dan perlengkapan-perlengkapan lain yang tersedia di RSUD dan Puskesmas, apakah sudah memenuhi syarat atau tidak, dan yang lebih penting adalah banyaknya jumlah kunjungan pasien, sebab setiap dokter ditargetkan untuk menangani sekitar 400 kasus.

“Yang paling penting adalah jumlah kunjungan pasien ke rumah sakit, sudah cukup banyak atau tidak, karena setiap dokter diberikan target untuk menangani 400 kasus selama penempatan,” ungkap dr. Ima.

Dokter Ima mengisahkan, banyak dokter muda yang mengajukan lamarannya ke Manggarai Barat. Namun demikian kuota yang disediakan terbatas sehingga KIDI melakukan seleksi dengan persyaratan sebagaimana yang telah dipersyaratkan. (Arnoldus Nggorong)