YANG TERINDAH DARI KAWASAN PANTAI MBERENANG

07-Apr-2018 08:54:53

Labuan Bajo – Pagi merekah seindah bunga. Matahari dengan warna putih salju memancarkan sinarnya. Rumput pun tumbuh segar dengan semangat baru, tidak hanya di petak-petak rumput di pinggir jalan, tetapi juga di antara petak-petak batu tampak menghijau dibaluti embun pagi yang masih menempel.

Ikut bergirang menyambut sinar mentari pagi tetumbuhan, burung pipit dan serangga. Mereka bercengkerama dengan bahasa alam. Nun jauh di seberang selatan nampak samar-samar pulau Sumba. Sementara di arah timur dengan jelas menjulang pulau Mules.

Ombak putih berkejar-kejaran saling berebutan menuju pantai. Pasir putih membentang ditemani tumpukan bebatuan berwarna di sepanjang pantai sungguh memikat hati. Hamparan biru laut nan asri memanjakan mata. Rasa damai dalam hati. Segala kepenatan dan beban pun hilang sekejap.

Tidak hanya itu, mata pengunjung pun disuguhi dengan gundukan pasir yang berkelompok-kelompok yang nampak seperti gunung-gunung kecil amat memukau. Panorama alamnya sungguh menakjubkan membuat pengunjung enggan pulang. Selain itu pungunjung pun dibuat terbuai dalam hembusan angin sepoi-sepoi yang mengundang kantuk.

Demikian sekilas pesona kawasan pantai Mberenang di wilayah selatan Kecamatan Lembor Selatan yang masih alamiah dan menawarkan daya pikat bagi siapa pun yang mengunjunginya.

“Bentangan pantai tersebut yang berada di wilayah desa Repi, Watu Waja, Watu Tiri, dan Nanga Lili kurang lebih sekitar 8 km,” ungkap Dami Raden, Sekretaris Kecamatan Lembor Selatan saat dihubungi di usai kegiatan panen simbolis jagung hibrida di Kampung Watu Weri, Desa Repi, Kecamatan Lembor Selatan, Jumat (6/4/2018). “Namun demikian pantai di wilayah desa Benteng Dewa dan Nanga Bere memiliki potensi wisata yang tak kalah menarik,” ujarnya.

Oleh karena keindahannya yang masih asli dengan pohon-pohon rindang seperti reo dan pohon lokal lainnya, pada setiap hari minggu ataupun hari-hari libur lainnya pantai di kawasan empat desa tersebut ramai dikunjungi warga.

Selain panorama alam yang indah, di sana juga terdapat gua alam yang menjadi tempat bersarang burung walet. Didukung pula dengan adanya air tawar dari celah batu di bibir pantai yang dapat dimanfaatkan warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan akan air bersih yang terletak di Dusun Lengkong Lala, Desa Repi.

Ada pula Benteng Ponto peninggalan jaman kolonial Belanda di Lengkong Lala yang telah menjadi situs bersejarah. Pengunjung akan menemukan sejumlah obyek wisata eksotik yang ada di kawasan tersebut. Kehausan jiwa petualang pengunjung sungguh terobati.

Bonefasius Jumur (54) warga Watu Weri desa Repi mengatakan, pengunjung yang datang menikmati keindahan pantai mberenang dan sekitarnya bukan hanya dari Kabupaten Manggarai Barat, tetapi juga dari Kabupaten Manggarai.

Bahkan menurut Fransiskus (45) warga desa Watu Tiri, wisatawan asing pun datang menikmati panorama pantai yang memukau itu. “Dan di Watu Weri persis di bibir pantai sudah ada pondok milik orang asing,” ujarnya.

Paulus Setahu, Camat Lembor Selatan, mengatakan, Pemerintah sedang berupaya mendorong masyarakat untuk mempersiapkan diri menyongsong geliat pariwisata yang terus berkembang dengan cepatnya.

Meski jalan menuju kawasan pantai Mberenang sudah cukup bagus, namun kawasan tersebut belum ditata dengan baik. Akan tetapi justru dalam tampilannya yang orisinal itu telah membuat pengunjung berduyun-duyun menuju ke sana dengan memanfaatkan masa liburan.

Jangan Jual Tanah

Bupati Manggarai Barat, Drs. Agustinus Ch. Dula, dalam acara kegiatan panen simbolis jagung hibrida di Kelompok Tani Worang Tonas di Kampung Watu Weri, Desa Repi, Jumat (6/4/2018), mengingatkan warga setempat agar tidak menjual tanahnya kepada pihak luar atau pun asing.

“Salah satu godaan yang menggiurkan yang membuat masyarakat kita tidak berdaya adalah melihat banyaknya angka uang dan dengan itu mereka terdorong untuk menjual tanah dengan berbagai alasan,” ujar Bupati Gusti Dula.

Aset tanah adalah harta yang tidak pernah akan habis terpakai, sedangkan uang pada waktunya akan habis digunakan. Maka dari itu, pada kesempatan tersebut Bupati Gusti Dula meminta masyarakat setempat untuk mensiasatinya dengan membuat kontrak sewa pakai dengan pihak luar.

“Jika tanah dijual, maka dengan sendirinya kepemilikan atas tanah menjadi hak si pembeli, yang mana saat pihak asing mendirikan hotel atau sejenisnya, lalu anak dan cucu kita bekerja di situ hanya sebagai satpam misalnya, secara tidak langsung kita telah membuat mereka susah dan kita sendiri sebagai pemilik akhirnya cuma bisa menonton,” kata Bupati Gusti Dula.

Tetapi kalau kita membuat perjanjian kontrak dengan masa waktu tertentu, maka jelas anak cucu kita akan menikmati hasilnya di kemudian hari. “Kita dengan bangga mengatakan, hotel itu milik saya,” tegas Bupati Gusti Dula disambut tepuk tangan membahana dari warga setempat.

Peringatan seperti itu selalu diutarakan Bupati Gusti Dula kepada warga masyarakat dalam setiap kunjungan kerjanya terutama di jalur lintas utara maupun selatan yang memiliki potensi wisata yang mempesona terlebih di tempat-tempat strategis yang pemandangannya langsung ke laut. (Arnoldus Nggorong)