PAKI REIS, TANDA DIBUKANYA PERMAINAN CACI FESTIVAL KOMODO

07-Mar-2018 09:16:05

Labuan Bajo – Plaakk!!!! Terdengar bunyi tamparan keras. Bunyi dua perisai yang saling beradu menyentak penonton. Tak ayal, reaksi spontan penonton berupa seruan decak kagum serentak terlontar dari mulutnya.

Bupati Manggarai Barat, Drs. Agustinus Ch. Dula, tampil perkasa dengan gaya pemain caci profesional, sambil meliuk-liukkan Larik, lalu dengan kecepatan tak terduga mengayunkan pukulan kepada lawannya. Dan dengan ketangkasan yang tak kalah cepat pula, lawan yang dipukul tadi menangkis dengan menggunakan Ta’ang.

Pukulan pertama yang dilakukan Bupati Gusti Dula adalah paki reis sebagai tanda dibukanya permainan caci yang diselenggarakan selama dua hari mulai tanggal 6 sampai dengan 7 Maret 2018 di lapangan sepak bola Kampung Ujung Labuan Bajo.

Dalam budaya Manggarai paki reis adalah tanda penghormatan dan penghargaan terhadap tamu yang datang yang mengambil bagian dalam permainan caci. Tamu yang diundang dalam permainan itu adalah saudara yang datang untuk meramaikan dan memeriahkan permainan caci yang memberikan penghiburan kepada penonton. Dia bukan musuh.

Bupati Gusti Dula, dalam acara pembukaan permainan caci, Senin (6/3/2018), mengatakan, permainan caci sebagai warisan budaya leluhur telah menjadi daya tarik wisata. Karena itu, Bupati Gusti Dula berharap agar para pemain dapat menunjukkan kebolehan, kelihaian dan ketangkasannya. Aspek keindahan permainan caci sebagai sebuah seni harus sungguh-sungguh ditonjolkan sehingga dapat memikat penonton.

Dalam permainan caci tersebut, Kabupaten Manggarai Barat tampil sebagai tuan rumah sementara Kabupaten Manggarai adalah meka landang (tamu).

Turut hadir dalam acara pembukaan tersebut, pejabat Kementerian Pariwisata RI, Kepala Dinas Pariwisata Propinsi NTT, Forkompimda, sejumlah pimpinan OPD beserta warga kota Labuan Bajo dan sekitarnya.

Tak ketinggalan wisatawan mancanegara dan domestik yang turut menyaksikannya mengabadikan moment tersebut dengan kamera maupun handphone androidnya masing-masing.

Untuk diketahui, caci dalam budaya Manggarai adalah tarian perang yang diperankan dua jawara yang menampilkan sisi kepahlawanan, keperkasaan, kejantanan, kelincahan, dan keindahan. Sebagai sebuah permaian, caci mempunyai aturan mainnya yang khas sehingga tidak terkesan liar. Masing-masing pemain melakonkan perannya sesuai atauran. Bila satu pihak memukul, maka pihak yang lainnya menangkis. Lakon itu diperankan secara bergantian sehingga memberi kesan adil bagi kedua belah pihak. (Arnoldus Nggorong dan Yustin Penghibur)