JAJARAN PEGAWAI KENAKAN SERAGAM MOTIF DAERAH

28-Feb-2018 08:59:22

Kominfo Mabar; Rabu, 28 Februari 2018

Labuan Bajo – Halaman Kantor Bupati Manggarai Barat nampak asri senin pagi, (26/02/2018). Sinar mentari pagi yang menyelimutinya menambah kemilau barisan yang berjejer rapi. Pagi itu, deretan barisan peserta upacara dalam rangka peringatan HUT Mabar yang ke-15 tegak berdiri rapi dibalut warna-warni seragam bermotif daerah.

Upacara peringatan HUT Mabar kali ini tampil beda. Para pegawai lingkup Pemda Mabar, Instansi Vertikal, BUMN, dan BUMD mengenakan seragam motif daerah. Kaum lelaki dilengkapi atribut topi re’a, sedangkan kaum perempuan tampil menawan dengan selendangnya.

Puncak peringatan HUT Mabar yang ke-15 ini diselenggarakan dengan cara yang istimewa dan unik. Pelbagai seragam motif daerah nusantara menyatu dalam keserasian deretan barisan yang tertata apik.

Busana adat Songke Manggarai yang didominasi warna hitam dengan motif mata manuk tampil mendominasi. Ada juga seragam motif dari daerah lainnya di antaranya Ende, Bugis, Timor, Bima, Sabu, Bajawa, Rote, dan Bali. Keanekaragaman busana adat itu sungguh menjadi kearifan lokal yang amat bernilai. Keragaman busana adat yang ada di Nusantara adalah khazanah budaya bangsa warisan leluhur yang mesti dilestarikan.

Dalam budaya Manggarai warna hitam sebagai warna dasar songke melambangkan kebesaran, keagungan, kekuatan dan kepasrahan. Bagi orang Manggarai, warna hitam membawa mereka untuk merefleksikan kebesaran, keagungan dan kekuatan Mori Jari Dedek (Tuhan Sang Pencipta).

Orang Manggarai sadar bahwa pada hakekatnya manusia adalah makluk yang fana. Oleh karena itu warna hitam pada kain songke mengingatkan manusia akan sikap penuh kepasrahan dan penyerahan diri kepada Mori Kraeng (Tuhan yang mahakuasa) sebagai penyelenggara kehidupan.

Dengan demikian peringatan HUT Mabar yang ke-15 dalam upacara dengan mengenakan seragam motif daerah menghantar setiap insan untuk memahami hakekat keberadaannya. Di samping itu yang tak kalah pentingnya juga adalah melahirkan rasa cinta terhadap budaya sendiri dan dapat mewariskannya kepada generasi berikut sebagai kearifan lokal yang memiliki nilai budaya yang tinggi. (Frumensius Amas & Arnoldus Nggorong)