CUNCA WULANG, PESONA YANG KIAN MEMIKAT

06-Nov-2018 00:55:57

LABUAN BAJO – Ketika memasuki kawasan hutan mbeliling hawa nan sejuk menemani perjalanan anda yang meliuk-liuk menyusuri jalan berkelok-kelok. Jalanan yang sepi dan cuma berpapasan dengan beberapa kendaraan masih memberikan udara bersih dan segar terutama saat menikmati perjalanan pagi.

Dedaunan nan hijau sungguh memanjakan mata dan tak pernah merasa jenuh memandang. Cahaya mentari yang menembus di cela-cela pepohonan menyegarkan rerumputan yang masih basah oleh embun pagi. Tanaman dan pohon-pohon yang segar dan asri menyambut sang surya yang bersinar membawa ketenteraman di hati.

Setelah berjalan dari kota Labuan Bajo menuju timur jalan trans Flores, selepas kampung Mamis, di sepanjang jalan terdapat beberapa tempat perhentian yang memungkinkan anda berhenti sejenak sambil beristirahat seraya melemparkan pandangan nun jauh ke arah kota Labuan Bajo nan indah permai.

Tersedia pula aneka buah-buahan yang dipajangkan di depan kios-kios penduduk menggoda selera. Ada pula ‘Kafe Melo’ yang terletak di atas bukit yang biasa disebut ‘Bukit Melo’ menyajikan kuliner lokal. Sambil melepas lelah sejenak sembari menikmati lezatnya kuliner lokal, panorama alam nan elok terbentang luas memikat hati.

Setelah berkendara ± 35 menit dari Labuan Bajo, anda akan sampai di pertigaan Ceko Nobo. Dari puncak Ceko Nobo hamparan panorama epik hutan hijau dan laut biru tetap dapat dinikmati sepuas mata memandang.

Dibutuhkan waktu 10 menit dari pertigaan Ceko Nobo menuju kampung Warsawe. Dengan bantuan pemandu lokal anda dihantar dari kampung Warsawe menuju Cunca Wulang dengan jarak tempuh ± 3 km setelah membayar pas masuk dan mendapat informasi yang dibutuhkan.

Jalan menuju Cunca Wulang melewati kebun dan sawah tadah hujan milik penduduk setempat serta hutan nan cantik dengan pohon-pohon yang tinggi menjulang. Hawa sejuk semakin terasa membawa anda pada suasana nyaman, hening, tenang, tentram dan damai.

Berada di sekitar obyek wisata air terjun Cunca Wulang anda disajikan dengan air terjun jeram dan curam dikelilingi pohon besar rindang nan hijau. Air terjun ini terdiri dari tiga tingkat memberi kesan  takjub dan simpatik.

Di bawahnya terdapat kawah yang terbentuk secara alami seperti kolam yang memungkinkan anda menikmati airnya dengan mandi dan berenang sepuas-puasnya serta memanfaatkan formasi batu-batu besar sebagai tempat pijakan untuk melompat dengan gaya bebas.

Cunca Wulang merupakan salah satu obyek wisata air terjun dengan lembah sungai yang khas, menarik dan menakjubkan, terletak di Desa Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling.

Cunca Wulang adalah nama yang diberikan oleh penduduk setempat. Dalam bahasa daerah setempat kata Cunca diartikan sebagai air terjun dan Wulang memiliki makna bulan. Secara harafiah diterjemahkan sebagai air terjun bulan.

Menurut adat istiadat dan kebiasaan masyarakat Manggarai, nama yang diberikan pada suatu benda atau tempat berkaitan erat dengan karakter dan situasi dan fenomena yang terjadi di sekitarnya. Pemberian nama ini memiliki makna simbolis.

Pemberian nama tersebut menggambarkan situasi di sekitar air terjun tersebut yang mana percikan air terjun itu membentuk cahaya seperti warna cahaya bulan yang dapat dilihat pada jam-jam tertentu seperti antara pukul 08.00 hingga 10.00 pagi dalam kondisi volume air yang deras pada musim hujan. Dengan alasan itulah, maka penduduk setempat memberi nama Cunca Wulang.

Ada juga obyek wisata lainnya yang terdapat di Desa Cunca Wulang antara lain Cunca Wulang Koe jaraknya ± 200 meter dari Cunca Wulang, Cunca Jami, Cunca Jami, Liang Rodak.

Vinsen Raden (32), pemandu lokal, mengatakan, akses menuju tempat wisata lainnya belum cukup baik sehingga wisatawan masih lebih cenderung ke Cunca Wulang ketimbang yang lainnya.

“Walaupun akses jalannya belum cukup baik, tetapi ada juga wisatawan yang mau berkunjung ke sana karena meraka ingin tahu seperti apa modelnya, setelah kami menjelaskannya pada mereka,” ungkap Vinsen.

Di samping memiliki obyek wisata yang indah dan menarik, Desa Cunca Wulang sendiri menyimpan potensi alam yang kaya akan buah-buahan seperti rambutan, nenas, alpukat, pisang, kelapa. Terdapat juga tanaman pangan lokal misalnya umbi-umbian seperti keladi (tete teko dalam bahasa setempat), ubi tatas (tete wase), singkong (tete wogor) dan tese.

Ada pula tanaman peerdagangan seperti kopi, kemiri, vanili, coklat, dan cengkeh. Tanah yang subur masih memungkinkan untuk dikembangkannya tanaman buah-buahan dan pel bagai jenis tanaman pangan lokal lainnya.

Bupati Manggarai Barat, Drs. Agustinus Ch. Dula, saat melantik Camat Mbeliling di Warsawe, Sabtu (3/11/2018), meminta Camat baru untuk memaksimalkan potensi pariwisata yang ada di wilayahnya yang dapat memberikan nilai tambah secara ekonomi bagi masyarakat.

“Cunca Wulang sudah sangat populer dan dikenal di kalangan para wisatawan. Camat baru harus bisa memanfaatkan peluang ini untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Bupati Gusti Dula.

 Pengunjung yang Terus Meningkat

Pesona alam Cunca Wulang dan sekitarnya yang eksotik dan kian memikat telah menjadi destinasi pilihan bagi para wisatawan baik mancanegara maupun domestik. Air terjun Cunca Wulang makin digemari seiring dengan namanya yang semakin tersohor.

Jumlah kunjungan terus mengalami peningkatan. Menurut data yang diperoleh, jumlah pengunjung dari bulan Februari sampai dengan September 2018 telah mencapai 8.155 orang. Jumlah kunjungan terbanyak pada bulan Agustus yakni 1.881 orang dan sedikit menurun pada bulan September yaitu 1.092 pengunjung.

Pengunjung yang datang banyak yang berasal dari Eropa di antaranya Jerman, Prancis, Spanyol. Ada juga dari Amerika Serikat, Chile, disamping wisatawan domestik yang berasal dari Medan, Jakarta.

Menurut Vinsen, setiap hari selalu ada wisatawan yang datang berkunjung ke Cunca Wulang baik per orang maupun berkelompok.” Jumlahnya bervariasi, kadang banyak, kadang sedikit, tetapi setiap hari selalu ada,” kisahnya.

Vinsen pun melanjutkan ceritanya, wisatawan yang datang memanfaatkan jasa pemandu lokal. “Kami dibagi dalam tujuh kelompok yang terdiri dari 10 orang per kelompok,” tuturnya.

Tingkatkan Promosi

Melihat kunjungan wisatawan yang terus meningkat, Bupati Gusti Dula mendorong Camat yang baru dilantik untuk merencanakan kegiatan promosi dalam skala besar, misalnya dengan menyelenggarakan Festival Budaya.

“Camat baru harus dapat merencanakan untuk selenggarakan Festival yang bisa menarik semakin banyak wisatawan datang,” ungkap Bupati Gusti Dula.

Budaya sebagai identitas kelompok atau suku mesti menjadi perhatian serius dan dipelihara serta dikelola dengan baik. Budaya warisan leluhur mesti dipelajari dan dikembangakan secara berkelanjutan dari generasi ke generasi.

Pemerintah Daerah mendukung industri pariwisata yang terus berkembang pesat melalui program-program strategis. “Tahun ini jalan dari Ceko Nobo ke Warsawe akan diperlebar dan dihotmix,” kata Bupati Gusti Dula.

Menanggapi hal tersebut, Camat Mbeliling yang baru dilantik, Robertus Resmianto,SP meminta semua elemen masyarakat untuk bekerjasama bersinergi menyukseskan program-progam baik yang sedang dilaksanakan sebagai kelanjutan dari Camat sebelumnya maupun yang akan direncanakan pada masa kepemimpinannya. (Arnoldus Nggorong)