Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) RI  menyelenggarakan kegiatan workshop Perlindungan Anak dari kekerasan dan eksploitasi di Kabupaten Manggarai Barat. Kegiatan ini merupakan kerja sama dengan Kementerian PPA dan  Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBPPPA) Kabupaten Manggarai Barat.  Kegiatan workshop berlangsung di aula hotel Perundi kompleks Bandara.Udara Komodo Kamis (23/11).

Kepala Dinas DPPKBPPPA Ir, Puji Astuti melalui Kepala Bidang Perlindungan Anak pada DPPKBPPPA Kabupaten Manggarai  Barat Maksimus  Nurdin.S.Pd  dalam sekapur sirihnya  ketika membuka kegiatan workshop  itu mengatakan,  Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat sangat mendukung kegiatan workshop mengenai perlindungan anak dari kekerasan dan eksploitasi yang di hadiri oleh Asisten Deputi  Perlindungan Anak dari Kementerian PPA. Menurut  mantan Kabid PLS Dinas Pendidikan Kabupaten Manggarai Barat itu, dengan adanya workshop ini mampu melakukan sosialisasi dan advokasi, agar tidak lagi terjadi tindak kekerasan terhadap anak di Manggarai Barat, sebagai mana pernah terjadi beberapa kasus di antaranya  di Labuan Bajo dan di Kecamatan Boleng beberapa waktu lalu. Namun semuanya telah diselesaiakan secara musyawarah. Tentu harapnya kasus kekersan terhadap anak yang serupa tidak boleh terjadi lagi di Manggarai Barat.

Sementara itu Asisten Deputi Perlindungan Anak dari Kementerian PPA Rini Handayani  dalam kesempatan itu mengatakan, pada umumnya  terjadinya kekerasan pada anak kebanyakan di lakukan oleh orang terdekat. Oleh karena itu, kalau pelaku kekerasan oleh orang terdekat maka, siapa lagi yang bisa melindungi anak dari tindak kekerasan. Karenanya dibutuhkan peran dari semua pihak untuk membantu, meminimalisir terjadinya tindak kekerasan pada anak baik orang terdekat maupun stake holder lainya.

Sementara pakar anak pa Hadi dalam pada kesempatan yang sama, mengatakan tindak kekerasan terhadap anak tidak akan mengubah anak. Dengan melakukan kekerasan pada anak, sama halnya kita memberikan asupan racun bagi jiwanya. Dan ironisnya yang paling berbahaya dengan kata-kata. ”kata-kata”atau “ucapan” kita yang tidak baik di lontarkan kepada anak jauh lebih dasyat bahayanya dan ini juga merupakan bentuk tindak kekerasan bagi anak katanya. Hadi juga mengharapkan, melindungi anak dengan penuh kasih sayang, cinta, hindari bentuk kekerasan dengan kata-kata yang tidak baik curahkan perhatian, lemah lembut, sopan santun, perlindungan anak tanpa kekerasan daya tahan cukup bagus katanya. Dia juga menceritakan, ada banyak kasus orang kaya di dunia ini, justru melakukan tindakan bunuh diri, itu berarti karena tidak bahagia, jarang orang bahagia yang melakukan bunuh diri, oleh karena itu kaya juga belum menjamin kebahagiaannya.

Ketika kita memberikan kasih sayang bagi anak-anak kita, maka anak-anak juga akan bisa menentukan, menentukan pilihan yang terbaik bagi dirinya seperti  yang paling sederhana, tidak akan menonton tv yang siarannya merugikan mereka, tidak akan tergoda  dengan kemajuan Informasi terutama yang negative, dan tidak akan terjebak dengan Narkoba, dan kalau dengan kekerasan, maka peluangnya akan terbalik, ujar Hadi.

Matias salah seorang Guru SMP Negeri I Komodo pada kesempatan itu mempertanyakan, bagaimana sikap guru untuk menghadapi anak-anak yang super nakal dan apa guru tidak perlu di beri perlindungan? Menjawab hal itu Hadi mengatakan, ketika anak tidak di siplin, maka kita tidak boleh bosan untuk melatih mereka untuk disiplin.Dan sopan santun mesti di ajarkan dengan bijak,katanya. Dan soal perlu ada perlindungan bagi guru menurut Hadi, rumusanya sangat sederhana, kalau guru ingin di lindungi, maka guru harus melindungi anak murid,katanya.

Pada kesempatan itu Rini Handayani juga mengharapkan peran Media, untuk membantu melakukan sosialisasi yang baik bagi masyrakat, hindari pemberitaan yang meningkatkan kekerasan bagi anak, “ tampilkan informasi yang bijak kepada masyarakat yang sesuai dan tidak berlebihan” katanya.(Kominfo-Mabar)